Reaksi alergi kerap dijumpai pada anak2, terutama pada usia dibawah lima tahun. Bahkan ada yg telah menunjukkan tanda-tanda alergi sejak baru dilahirkan.
Jika tidak segera ditangani, anak dgn alergi itu bisa mengalami reaksi alergi pada saluran pernapasan seperti asma saat menginjak usia remaja.
“Adanya reaksi alergi pada anak perlu di deteksi sejak dini agar tidak bertambah parah dan mengganggu aktivitas anak” kata dokter spesialis anak Zakiudin Munasir dari Divisi Alergi dan Imunologi Klinik Departemen Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dalam simposium bertema “Peran Alergi dan Imunologi Klinik dalam Praktik secara umum” di Jakarta Sabtu (28/6).
Salah satu jenis alergi yg banyak dijumpai pada anak adalah atopic dermatitis (AD) yakni penyakit kulit yg ditandai dgn peradangan secara kronik.
Dalam dunia kedokteran atopic artinya bakat terhadap terjadinya alergi yg diturunkan. Alergi pada anak2 pada usia dibawah lima tahun sering kali terkait dgn faktor genetik atau adanya riwayat alergi dalam keluarga. Efek alergi ini muncul dalam kehidupan pasien dan keluarga terutama orangtuanya.
Tanda-tanda klinis yg biasanya muncul pada bagian pipi berupa merah, gatal, bersisik dan gelembung-gelembung cairan. Hal ini dianggap oleh sebagian masyarakat sebagai ketumpahan air susu ibu. Ini merupakan persepsi yg salah.
“Padahal sebenarnya pemicunya adalah ibu dari bayi terpapar sumber alergen yaitu makanan yg beresiko mencetuskan alergi” ujarnya.
Agar alergi yg diderita pada anak tidak bertambah parah, tutur Zakiudin, paparan sumber alergen perlu dihindari baik makanan maupun faktor lingkungan. Salah satu penyebab utama alergi makanan pada bayi adalah protein susu sapi. Selain itu bisa pula akibat mengkonsumsi telur, kacang tanah dan berbagai jenis ikan laut.
(Retype ; Kompas, Senin 30 Juni 2008 - h13.)
Salam Sehat,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar